Takhalli,Tahalli, dan Tajalli
Manusia dilengkapi oleh Allah dua
hal pokok, yaitu jasmani dan rohani. Dua hal ini memiliki keperluan
masing-masing. Jasmani membutuhkan makan, minum, pelampiasan syahwat,
keindahan, pakaian, perhiasan-perhiasan dan kemasyhuran. Rohani, pada sisi
lain, membutuhkan kedamaian, ketenteraman, kasih-sayang dan cinta.
Para sufi menegaskan bahwa hakekat
sesungguhnya manusia adalah rohaninya. Ia adalah muara segala kebajikan.
Kebahagiaan badani sangat tergantung pada kebahagiaan rohani. Sedang,
kebahagiaan rohani tidak terikat pada wujud luar jasmani manusia. Sebagai
inti hidup, rohani harus ditempatkan pada posisi yang lebih tinggi. Semakin
tinggi rohani diletakkan, kedudukan manusia akan semakin agung. Jika rohani
berada pada tempat rendah, hina pulalah hidup manusia. Fitrah rohani adalah
kemuliaan, jasmani pada kerendahan. Badan yang tidak memiliki rohani tinggi,
akan selalu menuntut pemenuhan kebutuhan-kebutuhan rendah hewani. Rohani
hendaknya dibebaskan dari ikatan keinginan hewani, yaitu kecintaan pada pemenuhan
syahwat dan keduniaan. Hati manusia yang terpenuhi dengan cinta pada dunia,
akan melahirkan kegelisahan dan kebimbangan yang tidak berujung. Hati adalah
cerminan ruh. Kebutuhan ruh akan cinta bukan untuk dipenuhi dengan kesibukan
pada dunia. Ia harus bersih.
Dalam
rangkaian metode pembersihan hati, para sufi menetapkan dengan tiga tahap :
Takhalli, Tahalli, dan Tajalli. Takhalli, sebagai tahap pertama dalam
mengurus hati, ( Takhalli ) adalah membersihkan hati dari keterikatan
pada dunia. Hati, sebagai langkah pertama, harus dikosongkan. Ia disyaratkan
terbebas dari kecintaan terhadap dunia, anak, istri, harta dan segala
keinginan duniawi.
Dunia dan isinya, oleh para sufi,
dipandang rendah. Ia bukan hakekat tujuan manusia. Manakala kita meninggalkan
dunia ini, harta akan sirna dan lenyap. Hati yang sibuk pada dunia, saat
ditinggalkannya, akan dihinggapi kesedihan, kekecewaan, kepedihan dan
penderitaan. Untuk melepaskan diri dari segala bentuk kesedihan, lanjut para
saleh sufi, seorang manusia harus terlebih dulu melepaskan hatinya dari
kecintaan pada dunia.
Tahalli, sebagai tahap kedua berikutnya, adalah upaya pengisian
hati yang telah dikosongkan dengan isi yang lain, yaitu Allah (swt). Pada
tahap ini, hati harus selalu disibukkan dengan dzikir dan mengingat Allah.
Dengan mengingat Allah, melepas selain-Nya, akan mendatangkan kedamaian.
Tidak ada yang ditakutkan selain lepasnya Allah dari dalam hatinya. Hilangnya
dunia, bagi hati yang telah tahalli, tidak akan mengecewakan. Waktunya sibuk
hanya untuk Allah, bersenandung dalam dzikir. Pada saat tahalli, lantaran
kesibukan dengan mengingat dan berdzikir kepada Allah dalam hatinya, anggota
tubuh lainnya tergerak dengan sendirinya ikut bersenandung dzikir. Lidahnya
basah dengan lafadz kebesaran Allah yang tidak henti-hentinya didengungkan
setiap saat. Tangannya berdzikir untuk kebesaran Tuhannya dalam berbuat.
Begitu pula, mata, kaki, dan anggota tubuh yang lain. Pada tahap ini, hati
akan merasai ketenangan. Kegelisahannya bukan lagi pada dunia yang menipu. Kesedihannya
bukan pada anak dan istri yang tidak akan menyertai kita saat maut menjemput.
Kepedihannya bukan pada syahwat badani yang seringkali memperosokkan pada
kebinatangan. Tapi hanya kepada Allah. Hatinya sedih jika tidak mengingat
Allah dalam setiap detik.
Setelah tahap pengosongan dan
pengisian, sebagai tahap ketiga adalah Tajalli. Yaitu, tahapan dimana
kebahagian sejati telah datang. Ia lenyap dalam wilayah Jalla Jalaluh, Allah
subhanahu wata’ala. Ia lebur bersama Allah dalam kenikmatan yang tidak bisa
dilukiskan. Ia bahagia dalam keridhoan-Nya. Pada tahap ini, para sufi
menyebutnya sebagai ma’rifah, orang yang sempurna sebagai manusia luhur.
Syekh Abdul Qadir Jaelani
menyebutnya sebagai insan kamil, manusia sempurna. Ia bukan lagi hewan, tapi
seorang malaikat yang berbadan manusia. Rohaninya telah mencapai ketinggian
kebahagiaan. Tradisi sufi menyebut orang yang telah masuk pada tahap ketiga
ini sebagai waliyullah, kekasih Allah. Orang-orang yang telah memasuki
tahapan Tajalli ini, ia telah mencapai derajat tertinggi kerohanian manusia.
Derajat ini pernah dilalui oleh Hasan Basri, Imam Junaidi al-Baghdadi, Sirri
Singkiti, Imam Ghazali, Rabiah al-Adawiyyah, Ma’ruf al-Karkhi, Imam Qusyairi,
Ibrahim Ad-ham, Abu Nasr Sarraj, Abu Bakar Kalabadhi, Abu Talib Makki, Sayyid
Ali Hujweri, Syekh Abdul Qadir Jaelani, dan lain sebagainya. Tahap inilah
hakekat hidup dapat ditemui, yaitu kebahagiaan sejati.
|
PERJALANAN
TASAWUF dlm KAITAN TAKHALLI, TAHALLI, TAJALLI
Perjalanan Tasawuf Dalam Kaitan Takhalli, Tahalli,
Tajalli
Dalam pandangan kaum sufi, manusia cenderung mengikuti hawa nafsu. Ia cenderung
ingin menguasai dunia atau berusaha agar berkuasa di dunia. Menurut Al-Gazali,
cara hidup seperti ini akan membawa manusia ke jurang kehancuran moral.
Kenikmatan hidup di dunia telah menjadi tujuan umat pada umumnya. Pandangan
hidup seperti ini menyebabkan manusia lupa akan wujudnya sebagai hamba Allah
yang harus berjalan di atas aturan-aturan-Nya.
Untuk memperbaiki keadaan
mental yang tidak baik tersebut, seseorang yang ingin memasuki kehidupan
tasawuf harus melalui beberapa tahapan yang cukup berat. Tujuannya adalah untuk
menguasai hawa nafsu, menekan hawa nafsu sampai ketitik terendah dan bila
mungkin mematikan hawa nafsu itu sama sekali. Tahapan tersebut terdiri atas
tiga tingkatan yaitu takhalli, tahalli, dan tajalli.
1.
Takhalli
Takhalli, berarti
mengosongkan diri dari sikap ketergantungan terhadap kelezatan kehidupan
duniawi. Dalam hal ini manusia tidak diminta secara total melarikan diri dari
masalah dunia dan tidak pula menyuruh menghilangkan hawa nafsu. Tetapi, tetap
memanfaatkan duniawi sekedar sebagai kebutuhannya dengan menekan dorongan nafsu
yang dapat mengganggu stabilitas akal dan perasaan. Ia tidak menyerah kepada
setiap keinginan, tidak mengumbar nafsu, tetapi juga tidak mematikannya. Ia
menempatkan segala sesuatu sesuai dengan proporsinya, sehingga tidak memburu
dunia dan tidak terlalu benci kepada dunia.
Jika hati telah dihinggapi
penyakit atau sifat-sifat tercela, maka ia harus diobati. Obatnya adalah dengan
melatih membersihkannya terlebih dahulu, yaitu melepaskan diri dari sifat-sifat
tercela agar dapat mengisinya dengan sifat-sifat yang terpuji untuk memperoleh
kebahagiaan yang hakiki.
2.
Tahalli
Setelah melalui tahap
pembersihan diri dari segala sifat dan sikap mental yang tidak baik dapat
dilalui, usaha itu harus berlanjut terus ke tahap kedua yang disebut tahalli.
Yakni, mengisi diri dengan sifat-sifat terpuji, dengan taat lahir dan bathin.
Dalam hal ini Allah SWT berfirman : Sesungguhnya Allah menyuruh kamu berlaku
adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat dan Allah melarang
perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu
agar kamu dapat mengambil pelajaran. (QS. 16 : 90 )
Dengan demikian, tahap tahalli
ini merupakan tahap pengisian jiwa yang telah dikosongkan tadi. Sebab, apabila
satu kebiasaan telah dilepaskan tetapi tidak segera ada penggantinya maka
kekosongan itu bisa menimbulkan prustasi. Oleh karena itu, setiap satu
kebiasaan lama ditinggalkan, harus segera diisi dengan satu kebiasaan baru yang
baik. Dari satu latihan akan menjadi kebiasaan dan dari kebiasaan akan
menghasilkan kepribadian. Jiwa manusia, kata Al-Gazali, dapat dilatih, dapat
dikuasai, bisa diubah dan dapat di bentuk sesuai dengan kehendak manusia itu
sendiri.
Sikap mental dan perbuatan
luhur yang sangat penting diisikan ke dalam jiwa seseorang dan dibiasakan dalam
kehidupannya adalah taubah, sabar, kefakiran, zuhud, tawakkal, cinta, ma’rifah,
dan kerelaan. Apabila manusia mampu
mengisi hatinya dengan sifat-sifat terpuji, maka ia akan menjadi cerah dan
terang.
Manusia yang mampu
mengosongkan hatinya dari sifat-sifat yang tercela ( takhalli ) dan
mengisinya dengan sifat-sifat yang terpuji ( tahalli ), segala perbuatan
dan tindakannya sehari-sehari selalu berdasarkan niat yang ikhlas. Seluruh
hidup dan gerak kehidupannya diikhlaskan untuk mencari keridhoan Allah semata. Karena itulah
manusia yang seperti ini dapat mendekatkan diri kepada-Nya.
3. Tajalli
Untuk
pemantapan dan pendalaman materi yang telah dilalui pada fase tahalli,
maka tahapan pendidikan mental itu disempurnakan pada fase tajalli. Tajalli
berarti terungkapnya nur gaib untuk hati. Dalam hal ini kaum sufi mendasarkan
pendapatnya pada firman Allah SWT : Allah adalah nur (cahaya) langit dan
bumi (QS. 24:35 ).
Para sufi sependapat bahwa
untuk mencapai tingkat kesempurnaan kesucian jiwa itu hanya dengan satu jalan,
yaitu cinta kepada Allah dan memperdalam rasa kecintaan itu. Dengan kesucian
jiwa ini, barulah akan terbuka jalan untuk mencapai Tuhan. Tanpa jalan ini
tidak ada kemungkinan terlaksananya tujuan itu dan perbuatan yang dilakukan tidak
dianggap perbuatan yang baik.
Untuk melestarikan dan
memperdalam rasa ketuhanan, ada beberapa
cara yang diajarkan kaum sufi, antara lain :
a.
Munajat
Secara
sederhana kata ini mengandung arti melaporkan diri ke hadirat Allah atas segala
aktivitas yang dilakukan. Ini adalah salah satu bentuk do’a yang diucapkan
dengan sepenuh hati disertai dengan deraian air mata dan dengan bahasa yang
puitis. Doa dan air mata itulah munajat sebagai manifestasi dari rasa cinta dan
rindu kepada Allah. Latihan dengan ibadah seperti itu adalah cara memperdalam
penghayatan rasa ketuhanan.
b.
Muraqabah dan Muhasabah
Menurut Abu
Zakaria Ansari, MURAQABAH adalah senantiasa memandang dengan hati kepada Allah dan selalu memperhatikan apa
yang diciptakan-Nya. Jadi, sesuai dengan pengertian ini bahwa MURAQABAH itu merupakan
suatu sikap mental yang senantiasa melihat dan memandang baik dalam keadaan bangun/tidur, bergerak/diam, dan di
waktu lapang maupun susah. .
Muhasabah ( Menghisab / Evaluasi )
Dari Syadad bin Aus r.a., dari Rasulullah saw., bahwa
beliau berkata, ‘Orang yang pandai adalah yang menghisab (mengevaluasi) dirinya
sendiri serta beramal untuk kehidupan sesudah kematian. Sedangkan orang yang
lemah adalah yang dirinya mengikuti hawa nafsunya serta berangan-angan terhadap
Allah swt. (HR. Imam Turmudzi, ia berkata, ‘Hadits ini adalah hadits hasan’)
Gambaran Umum Hadits
Hadits di atas menggambarkan urgensi
muhasabah (evaluasi diri) dalam menjalani kehidupan di dunia ini. Karena hidup
di dunia merupakan rangkaian dari sebuah planing dan misi besar seorang hamba,
yaitu menggapai keridhaan Rab-nya. Dan dalam menjalankan misi tersebut,
seseorang tentunya harus memiliki visi (ghayah), perencanaan (ahdaf),
strategi (takhtith), pelaksanaan (tatbiq) dan evaluasi (muhasabah).
Hal terakhir merupakan pembahasan utama yang dijelaskan oleh Rasulullah saw.
dalam hadits ini. Bahkan dengan jelas, Rasulullah mengaitkan evaluasi dengan
kesuksesan, sedangkan kegagalan dengan mengikuti hawa nafsu dan banyak angan.
Indikasi Kesuksesan dan Kegagalan
Hadits di atas dibuka Rasulullah
dengan sabdanya, ‘Orang yang pandai (sukses) adalah yang mengevaluasi dirinya
serta beramal untuk kehidupan setelah kematiannya.’ Ungkapan sederhana ini
sungguh menggambarkan sebuah visi yang harus dimiliki seorang muslim. Sebuah
visi yang membentang bahkan menembus dimensi kehidupan dunia, yaitu visi hingga
kehidupan setelah kematian.
Seorang muslim tidak seharusnya
hanya berwawasan sempit dan terbatas, sekedar pemenuhan keinginan untuk jangka
waktu sesaat. Namun lebih dari itu, seorang muslim harus memiliki visi dan
planing untuk kehidupannya yang lebih kekal abadi. Karena orang sukses adalah
yang mampu mengatur keinginan singkatnya demi keinginan jangka panjangnya.
Orang bertakwa adalah yang ‘rela’ mengorbankan keinginan duniawinya, demi
tujuan yang lebih mulia, ‘kebahagian kehidupan ukhrawi.’
Dalam Al-Qur’an, Allah swt.
seringkali mengingatkan hamba-hamba-Nya mengenai visi besar ini, di antaranya
adalah dalam QS. Al-Hasyr (59): 18–19.
Muhasabah atau evaluasi atas visi
inilah yang digambarkan oleh Rasulullah saw. sebagai kunci pertama dari
kesuksesan. Selain itu, Rasulullah saw. juga menjelaskan kunci kesuksesan yang
kedua, yaitu action after evaluation.
Artinya setelah evaluasi harus ada aksi perbaikan. Dan hal ini diisyaratkan
oleh Rasulullah saw. dengan sabdanya dalam hadits di atas dengan ’dan beramal
untuk kehidupan sesudah kematian.’ Potongan hadits yang terakhir ini
diungkapkan Rasulullah saw. langsung setelah penjelasan tentang muhasabah.
Karena muhasabah juga tidak akan berarti apa-apa tanpa adanya tindak lanjut
atau perbaikan.
Terdapat hal menarik yang tersirat
dari hadits di atas, khususnya dalam penjelasan Rasulullah saw. mengenai
kesuksesan. Orang yang pandai senantiasa evaluasi terhadap amalnya, serta
beramal untuk kehidupan jangka panjangnya yaitu kehidupan akhirat. Dan evaluasi
tersebut dilakukan untuk kepentingan dirinya, dalam rangka peningkatan
kepribadiannya sendiri.
Sementara kebalikannya, yaitu
kegagalan. Disebut oleh Rasulullah saw, dengan ‘orang yang lemah’, memiliki dua
ciri mendasar yaitu orang yang mengikuti hawa nafsunya, membiarkan hidupnya
tidak memiliki visi, tidak memiliki planing, tidak ada action dari planingnya,
terlebih-lebih memuhasabahi perjalanan hidupnya. Sedangkan yang kedua adalah
memiliki banyak angan-angan dan khayalan, ’berangan-angan terhadap Allah.’
Maksudnya, adalah sebagaimana dikemukakan oleh Imam Al-Mubarakfuri dalam
Tuhfatul Ahwadzi, sebagai berikut: Dia (orang yang lemah), bersamaan dengan
lemahnya ketaatannya kepada Allah dan selalu mengikuti hawa nafsunya, tidak
pernah meminta ampunan kepada Allah, bahkan selalu berangan-angan bahwa Allah
akan mengampuni dosa-dosanya.
Urgensi Muhasabah
Imam Turmudzi setelah meriwayatkan
hadits di atas, juga meriwayatkan ungkapan Umar bin Khattab dan juga ungkapan
Maimun bin Mihran mengenai urgensi dari muhasabah.
1. Mengenai muhasabah, Umar r.a.
mengemukakan:
‘Hisablah (evaluasilah) diri kalian
sebelum kalian dihisab, dan berhiaslah (bersiaplah) kalian untuk hari aradh
akbar (yaumul hisab). Dan bahwasanya hisab itu akan menjadi ringan pada hari
kiamat bagi orang yang menghisab (evaluasi) dirinya di dunia.
Sebagai sahabat yang dikenal
‘kritis’ dan visioner, Umar memahami benar urgensi dari evaluasi ini. Pada
kalimat terakhir pada ungkapan di atas, Umar mengatakan bahwa orang yang biasa
mengevaluasi dirinya akan meringankan hisabnya di yaumul akhir kelak.
Umar paham bahwa setiap insan akan dihisab, maka iapun memerintahkan agar kita
menghisab diri kita sebelum mendapatkan hisab dari Allah swt.
2. Sementara Maimun bin Mihran r.a.
mengatakan:
‘Seorang hamba tidak dikatakan
bertakwa hingga ia menghisab dirinya sebagaimana dihisab pengikutnya dari mana
makanan dan pakaiannya’.
Maimun bin Mihran merupakan seorang
tabiin yang cukup masyhur. Beliau wafat pada tahun 117 H. Beliaupun sangat
memahami urgensi muhasabah, sehingga beliau mengaitkan muhasabah dengan
ketakwaan. Seseorang tidak dikatakan bertakwa, hingga menghisab (mengevaluasi)
dirinya sendiri. Karena beliau melihat salah satu ciri orang yang bertakwa
adalah orang yang senantiasa mengevaluasi amal-amalnya. Dan orang yang
bertakwa, pastilah memiliki visi, yaitu untuk mendapatkan ridha Ilahi.
3. Urgensi lain dari muhasabah
adalah karena setiap orang kelak pada hari akhir akan datang menghadap Allah
swt. dengan kondisi sendiri-sendiri untuk mempertanggung jawabkan segala amal
perbuatannya. Allah swt. menjelaskan dalam Al-Qur’an: “Dan tiap-tiap mereka
akan datang kepada Allah pada hari kiamat dengan sendiri-sendiri.” [QS. Maryam
(19): 95, Al-Anbiya’ (21): 1].
Aspek-Aspek Yang Perlu Dimuhasabahi
Terdapat beberapa aspek yang perlu
dimuhasabahi oleh setiap muslim, agar ia menjadi orang yang pandai dan sukses.
1.Aspek Ibadah
Pertama kali yang harus dievaluasi
setiap muslim adalah aspek ibadah. Karena ibadah merupakan tujuan utama
diciptakannya manusia di muka bumi ini. [QS. Adz-Dzaariyaat (51): 56]
2. Aspek Pekerjaan & Perolehan
Rizki
Aspek kedua ini sering kali dianggap
remeh, atau bahkan ditinggalkan dan ditakpedulikan oleh kebanyakan kaum
muslimin. Karena sebagian menganggap bahwa aspek ini adalah urusan duniawi yang
tidak memberikan pengaruh pada aspek ukhrawinya. Sementara dalam sebuah hadits,
Rasulullah saw. bersabda:
Dari Ibnu Mas’ud ra dari Nabi Muhammad
saw. bahwa beliau bersabda, ‘Tidak akan bergerak tapak kaki ibnu Adam pada hari
kiamat, hingga ia ditanya tentang 5 perkara; umurnya untuk apa dihabiskannya,
masa mudanya, kemana dipergunakannya, hartanya darimana ia memperolehnya dan ke
mana dibelanjakannya, dan ilmunya sejauh mana pengamalannya.’ (HR. Turmudzi)
3.Aspek Kehidupan Sosial Keislaman
Aspek yang tidak kalah penting untuk
dievaluasi adalah aspek kehidupan sosial, dalam artian hubungan muamalah,
akhlak dan adab dengan sesama manusia. Karena kenyataannya aspek ini juga
sangat penting, sebagaimana yang digambarkan Rasulullah saw. dalam sebuah
hadits:
Dari Abu Hurairah ra, bahwa
Rasulullah saw. bersabda, ‘Tahukah kalian siapakah orang yang bangkrut itu?’
Sahabat menjawab, ‘Orang yang bangkrut diantara kami adalah orang yang tidak
memiliki dirham dan tidak memiliki perhiasan.’ Rasulullah saw. bersabda, ‘Orang
yang bangkrut dari umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan
(pahala) shalat, puasa dan zakat, namun ia juga datang dengan membawa (dosa)
menuduh, mencela, memakan harta orang lain, memukul (mengintimidasi) orang
lain. Maka orang-orang tersebut diberikan pahala kebaikan-kebaikan dirinya.
Hingga manakala pahala kebaikannya telah habis, sebelum tertunaikan
kewajibannya, diambillah dosa-dosa mereka dan dicampakkan pada dirinya, lalu
dia pun dicampakkan ke dalam api neraka. (HR. Muslim)
Melalaikan aspek ini, dapat menjadi
orang yang muflis sebagaimana digambarkan Rasulullah saw. dalam hadits di atas.
Datang ke akhirat dengan membawa pahala amal ibadah yang begitu banyak, namun
bersamaan dengan itu, ia juga datang ke akhirat dengan membawa dosa yang
terkait dengan interaksinya yang negatif terhadap orang lain; mencaci, mencela,
menuduh, memfitnah, memakan harta tetangganya, mengintimidasi dsb. Sehingga
pahala kebaikannya habis untuk menutupi keburukannya. Bahkan karena kebaikannya
tidak cukup untuk menutupi keburukannya tersebut, maka dosa-dosa orang-orang
yang dizaliminya tersebut dicampakkan pada dirinya. Hingga jadilah ia tidak
memiliki apa-apa, selain hanya dosa dan dosa, akibat tidak memperhatikan aspek
ini. Na’udzubillah min dzalik.
4. Aspek Dakwah
Aspek ini sesungguhnya sangat luas
untuk dibicarakan. Karena menyangkut dakwah dalam segala aspek; sosial,
politik, ekonomi, dan juga substansi dari da’wah itu sendiri mengajak orang
pada kebersihan jiwa, akhlaqul karimah, memakmurkan masjid, menyempurnakan
ibadah, mengklimakskan kepasrahan abadi pada ilahi, banyak istighfar dan taubat
dsb.
Tetapi yang cukup urgens dan sangat
substansial pada evaluasi aspek dakwah ini yang perlu dievaluasi adalah, sudah
sejauh mana pihak lain baik dalam skala fardi maupun jama’i, merasakan manisnya
dan manfaat dari dakwah yang telah sekian lama dilakukan? Jangan sampai sebuah
‘jamaah’ dakwah kehilangan pekerjaannya yang sangat substansial, yaitu dakwah
itu sendiri.
Evaluasi pada bidang dakwah ini jika
dijabarkan, juga akan menjadi lebih luas. Seperti evaluasi dakwah dalam bidang
tarbiyah dan kaderisasi, evaluasi dakwah dalam bidang dakwah ‘ammah, evaluasi
dakwah dalam bidang siyasi, evaluasi dakwah dalam bidang iqtishadi, dsb?
Pada intinya, dakwah harus dievaluasi, agar harakah dakwah tidak hanya menjadi simbol yang substansinya telah beralih pada sektor lain yang jauh dari nilai-nilai dakwah itu sendiri. Mudah – mudahan ayat ini menjadi bahan evaluasi bagi dakwah yang sama-sama kita lakukan: Katakanlah: “Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik”. [QS. Yusuf (12): 108]
Pada intinya, dakwah harus dievaluasi, agar harakah dakwah tidak hanya menjadi simbol yang substansinya telah beralih pada sektor lain yang jauh dari nilai-nilai dakwah itu sendiri. Mudah – mudahan ayat ini menjadi bahan evaluasi bagi dakwah yang sama-sama kita lakukan: Katakanlah: “Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik”. [QS. Yusuf (12): 108]
Itulah beberapa tahapan
dalam pembinaan tasawuf. Mudah-mudahan dengan melakukan proses tahapan
tersebut, manusia dapat mengenal kehidupan tasawuf yang sesungguhnya.
TAKHALLI – TAHALLI – TAJALLI
أشهد أن لا اله الا الله و أشهد أن محمدا رسول الله
TAKHALLI
sesungguhnya beruntunglah orang yang
mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang
mengotorinya. (Q.S As Syams (91) : 9-10)
Takhalli adalah
mensucikan diri. Dalam hal ini disimbolkan dengan kisah pembedahan hati
Nabi oleh Malaikat Jibril dengan air zam-zam. Harap dipahami bahwa
pembedahan hati tersebut hanya simbol!. Maksud dari simbol itu adalah
untuk menemui Allah harus bersih/suci dari penyakit hati. Artinya adalah
manusia harus berusaha mensucikan dirinya. Kenapa? Karena Allah itu Maha
Suci. Dia hanya akan menerima hamba-Nya yang suci. Mereka yang belum suci
ya belum bisa kembali kepada-Nya. Ini berarti mereka masih
berada di alam surga dan neraka-Nya. Sebagian dari mereka
masih melakukan kejahatan. Sebagian dari mereka beribadah karena takut
neraka (mental budak) dan sebagian mereka lagi beribadah karena berharap
surga (mental pedagang). Jadi masih harus dilatih! Masih harus disempurnakan!
Bertakhalli adalah jihad yang paling besar karena
harus mengalahkan diri sendiri. Harus mengendalikan hawa nafsunya sendiri.
Sifat-sifat iri, dengki, munafik, tamak, dan perbuatan lain yang merugikan
orang haruslah dibuang jauh-jauh. Jelas bahwa musuh terbesar manusia
bukanlah siapa-siapamelainkan dirinya sendiri. Ada sebuah ungkapan bijak dari
Walt kelly yang mengatakan :
“Kita telah menemukan sang musuh, dan ternyata dia
adalah diri kita sendiri”. Dalam suatu Hadistnya, Nabi juga mengatakan
bahwa orang mukmin yang kuat bukanlah yang kuat fisiknya melainkan yang
mampu mengalahkan hawa nafsunya.
TAHALLI
Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil dan
berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari
perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran
kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran. (Q.S An Nahl(16) : 90)
Tahallli adalah mengisi hidup
kita dengan kebajikan atau perbuatan yang baik seperti jujur, kasih
sayang, sabar, ikhlas, mudah memberi maaf, menegakan perdamaian dan menebar
salam kepada sesama manusia. Nah, sekarang ini sebagian umat Islam
memposisikan dirinya ekslusif. Paling benar. Merasa paling masuk surga
sendirian sehingga mengharamkan menjawab salam dari umat non muslim.
Padahal fatwa tersebut jelas menyalahi perintah Allah.
Bahkan di Al Quran surah An Nisaa (4):94, pada saat berperang orang mukmin
itu dilarang mengatakan “kamu bukan mukmin” terhadap orang yang
mengucapkan salam. Dalam situasi perang saja kita diperintahkan demikian
apalagi dalam situasi damai!. Ayat lain di Al Quran juga memerintahkan hal
yang sama :
Dan
hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pemurah ialah mereka yang berjalan dimuka bumi
ini dengan rendah hati. Apabila orang jahil menyapa mereka, maka mereka
berkata “Salam” (kata-kata yang baik). (Q.S Al Furqan (25) : 63)
Coba kita
baca kembali ayat diatas. Sangat jelas bahwa orang mukmin yang rendah hati
pun akan membalas salam bahkan dari orang jahil atau iseng sekalipun.
Inilah mukmin yang mampu mengajak orang lain ke sorga dengan menebar
salam. Ayat diatas adalah ayat Quran, jadi tidak perlu ditanya
lagi keshahihannya. Sayangnya oleh para ulama, ayat diatas dibatalkan oleh
Hadist yang melarang menjawab salamnya orang non muslim.
Tidaklah mengherankan jika kemudian Islam dipandang sebagian orang non
muslim sebagai agama yang tidak bersahabat. Sungguh aneh jika Al Quran
dihapus oleh Hadist. Seharusnya kita hanya mengambil Hadist yang tidak
bertentangan dengan Quran. Kalau ada Hadist yang bertentangan dengan Quran
sebaiknya tidak masuk hitungan meski diriwayatkan oleh perawi yang
terkenal sekalipun. Perbuatan dan perkataan Rasul tentu disesuaikan dengan
kondisinya pada saat itu. Kita harus melihat kemungkinannya bahwa Hadist
itu sifatnya kasus per kasus () dan tidak bisa digeneralisasi untuk semua
keadaan. Dalam hal perintah Nabi untuk membunuh cecak misalnya, Hadist ini
tidak bisa digeneralisasi bahwa semua cecak harus dibunuh sebab Nabi
mengatakan perintah demikian karena pada saat itu Nabi terkena kotoran
cecak. Malah dalam Hadist lainnya, Nabi justru
memerintahkan
kita untuk tidak membunuh binatang yang tidak mengganggu.
Begitu
juga dengan Hadist yang melarang menjawab salam dari kalangan non muslim
harusnya jangan kita telan bulat-bulat. Jadi dalam hal ini kita
harus berhati-hati dengan Hadist. Bukan berarti kita ingkar Hadist.
Bukan!! Tapi berhati-hati dalam berfatwa menggunakan Hadist. Jangan kita
terjebak mengagung-agungkan (taklid) kepada perawinya. Tidak ada jaminan
dari Allah atau Nabi Muhammad yang menyatakan bahwa perawi A atau B adalah perawi
yang harus ditaati, dipercaya karena bebas dari kesalahan.
Sejarah
Hadist sendiri dimulai pada tahun 100 H dimana Khalifah Umar bin Abdul
Aziz mendorong penulisan Hadist. Jika Al Qurannya pada masa itu sudah baku
dan hanya ada satu yakni versi Ustman bin Affan -versi lainnya dibakar
agar tidak terjadi perbedaan-, tidaklah demikian dengan Hadist. Di masa
Umar bin. Abdul Aziz -yang wafat 101 H- riwayat, dongeng, sabda Yesus, dan
doktrin di luar Al Quran menjamur dan tak terkontrol sehingga pemalsuan
Hadist sulit untuk bisa di edit kembali. Lebih dari 125 tahun kemudian,
Bukhari baru muncul di permukaan bumi. Tak alang kepalang jumlah Hadist,
lebih dari sejuta Hadist. Bukhari sendiri menyeleksi sekitar
600.000
Hadis. Dan dari yang terseleksi pun banyak yang miring kepada daulat
Abbasiyah.
Coba
bayangkan, menguji validitas Hadist setelah 200 tahun Nabi wafat, tentunya
merupakan pekerjaan yang hampir mustahil dikerjakan manusia. Karena itu,
tumbuhlah ilmu-ilmu untuk menyaring Hadist, misalnya uji isnad/rijal, cara
periwayatan, dan juga matan. Jika Alquran yang ribuan ayat saja perlu
kejelian untuk menjadikannya kitab di masa Umar bin Khatthab, bagaimana
membakukan Hadist yang jumlahnya lebih dari sejuta? Secara logis, “Pesan
berantai” dari Nabi Muhammad hingga ratusan tahun ke depan tentu akan
sulit ditelusuri keasliannya. Tidak heran jika ada kelompok yang saling
berbeda pendapat akhirnya saling menuduh bahwa kelompok itu menggunakan
Hadist palsu. Pertengkaran dalil seperti ini jelas akan mengorbankan
ukhuwah Islam demi ego kelompoknya masing-masing.
Setelah
pembakuan Hadist secara besar-besaran, terbukti umat Islam malah kian
tertinggal dibandingkan umat agama lain karena patokan mereka cukup dengan
Hadist saja, bahkan sebagian lagi malah ada yang “menuhankan” Hadist dan
melupakan Quran. Dengan demikian, dalam menyikapi Hadist, harusnya kita
sangat berhati-hati karena walau bagaimanapun ada Hadist yang sifatnya
kasuistis (per kasus) dan ini bisa berbahaya bila digeneralisasi
dan dijadikan hukum.
Hanya Al
Quranlah yang dijamin keasliannya oleh Allah. Yang terbaik
adalah menafsirkan Quran dengan Quran. Boleh saja kita menafsirkan Quran
dengan Hadist asal Hadistnya tidak bertentangan dengan Quran. Kalau semua
Quran ditafsirkan dengan Hadist ya umat Islam bakalan mandeg. Al Quran
akhirnya cuma dikeramatkan. Orang malah lebih sering ngaji Quran
ketimbang mengkaji Quran. Umat Islam jadi malas berpikir untuk mengkaji
kembali Quran karena merasa sudah cukup ditafsirkan oleh Hadist. Al Quran
jadinya
malah
tertutup untuk bisa ditafsirkan kembali sesuai perubahan jaman.
Jadilah kita umat Islam abad ke-21 dengan produk pemikiran di abad silam.
Islam akhirnya tidak bisa menjadi rahmatan lil ‘alamin yang mampu menjadi
solusi di segala jaman. Sungguh kita membutuhkan ulama-ulama reformis
yang mampu membenahi citra Islam sebagai agama yang terbuka
terhadap perkembangan jaman.
TAJALLI
Maka Kami
bukakan tirai yang menutupi engkau, oleh sebab itu pandangan engkau
amatlah terangnya. (Q.S. Qaaf (50) : 22)
Pada proses
takhalli dan tahalli, seseorang berarti telah makrifat kepada Af’al, Asma
dan Sifat-Nya. Puncak dari seagala makrifat adalah makrifat Dzat. Inilah
yang disebut tajalli. Dalam istilah lain disebut juga Musyahadah
atau Mukhasafah. Manusia yang sudah mencapai tajalli berarti ia telah
bermikraj.
Dalam
peristiwa Isra Mikraj, Nabi diceritakan telah sampai ke “Pohon
Sidrah” (Pohon Lotus) yang biasa dikenal dengan sebutan Sidratul Muntaha.
Dengan Mikraj berarti beliau telah sampai kepada bayt Allah lalu
menemui-Nya. Nabi mengatakan : Ra’aitu Robbii fii ahsani su’uura (Aku
telah melihat Tuhanku yang seelok-eloknya rupa yang tiada umpamanya).
Dengan demikian, tidak ada hijab lagi antara diri dan Tuhannya. Yang
ditemui adalah Cahaya diatas cahaya!
Allah adalah
cahaya semua langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah adalah seperti
sebuah lubang yang tak tembus yang didalamnya ada pelita besar. Pelita itu
didalam kaca (dan) kaca itu bak bintang yang memancarkan sinar gemerlapan
yang dinyalakan (dengan minyak) dari pohon yang diberkati –yaitu pohon
zaitun yang tidak tumbuh di timur maupun barat. Minyaknya pun bercahaya
meski tidak disentuh api. Cahaya diatas cahaya. Allah memberikan cahaya
pada orang yang menghendaki cahaya-Nya. (Q.S An Nuur (24):35)
Nah, sholatnya
orang-orang beriman (makrifat) sangatlah khusyu karena ketika mereka
sholat, tidak ada hijab antara ia dan Tuhannya. Nabi bersabda :
“Sholat
adalah mikrajnya orang-orang yang beriman”. Ya! Hanya
orangorang berimanlah yang mengalami Mikraj ketika sholatnya Ini artinya
mereka tidak menyembah adam sarpin (kekosongan). Mereka bashar (melihat)
Allah ketika sholat dan Allah pun bashar kepada mereka. Sunan Bonang
–salah satu walisongo, penyebar agama Islam di nusantara- pernah bertutur,
seperti yang tertulis dalam Suluk Wujil sebagai berikut :
Endi ingaran
sembah sejati
Aja nembah
yen tan katingalan
Temahe kasor
kulane
Yen sira
nora weruh
Kang
sinembah ing dunya iki
Kadi anulup
kaga
Punglune den
sawur
Manuke
mangsa kenaa
Awekasa
amangeran adam sarpin
Sembahe siya-siya
Artinya :
“manakah yang disebut sholat yang sesungguhnya? Janganlah menyembah bila
tidak tahu siapa yang disembah. Akibatnya akan direndahkan martabat
hidupmu. Apabila engkau tidak mengetahui siapa yang disembah didunia ini,
engkau seperti menyumpit burung. Pelurunya disebar tetapi tak ada satupun
yang mengenai burungnya. Akhirnya cuma menyembah adam sarpin, penyembahan
yang tiada berguna”
Dalam
beragama, ada golongan orang ‘alim dan ada golongan orang ‘arif (telah
makrifat). Perbedaannya adalah, kalau orang ‘alim mengenal Tuhan hanyalah
sebatas percaya saja. Syahdatnya pun hanya diucapkan di bibir. Sedangkan
orang ‘arif mengenal Tuhannya adalah melalui (penyaksian). Syahadatnya bukan
hanya diucapkan belaka melainkan telah dibuktikannya. Jika seseorang sudah
mencapai tahap alim maka seyogyanya ia meningkatkan kualitas dirinya
menjadi seorang yang ‘arif. Orang yang telah mengenal Tuhannya akan mampu
sholat terus menerus dalam keadaan berdiri, duduk, bahkan tidur nyenyak
Intinya adalah segala perbuatannya adalah sholat. Inilah yang disebut
“sholat daim”. Aladzina hum ‘ala sholaatihim daa’imuun. Yaitu mereka yang
terus menerus melakukan sholat (Q.S Al-Ma’aarij : 70:23)
Mereka yang
mampu sholat daim adalah mereka yang tidak akan berkeluh kesah dalam hidupnya
dan senantiasa mendapat kebaikan sebagaimana disampaikan Q.S 70 : 19-22.
Nah, sholat daim ini modelnya seperti apa? Ah.. tentu saja tidak bisa
dibeberkan disini karena sholat daim adalah “oleh-oleh” dari hasil
pencarian spiritual manusia. Tidak bisa diceritakan ke semua orang kecuali
mereka yang telah memiliki kematangan spiritual. Ibarat pelajaran fisika
S3, ya tentu tidak bisa diajarkan kepada anak SMP. Harus lulus dulu
S2- nya agar menerima ilmu tersebut lebih mudah.
Sholat daim
adalah sholatnya orang ‘arif yang telah mengenal Allah. Ini adalah
sholatnya para Nabi, Rasul, dan orang-orang ‘arif. Ilmu ini memang tidak
banyak diketahui orang awam. Lantas bagaimana dengan sholat lima waktu?
Nah sholat lima waktu sebenarnya adalah jumlah minimal saja yang harus
dikerjakan manusia untuk mengingat Allah. Pada hakekatnya kita malah harus
terus menerus untuk mengingat Allah sebagaimana firman-Nya :
Dan ingatlah
kepada Allah diwaktu petang dan pagi (Q.S Ar-Ruum (30) : 17)
Dan sebutlah
nama Tuhanmu pada pagi dan petang. (Q.S Al-Insaan (76) : 25)
Ayat diatas
bukan berarti mengingat Allah hanya dua kali saja yaitu waktu pagi dan
petang sebab makna ayat diatas justru sehari-semalam! Yakni pagi dimulai
dari jam 12 AM-12 PM, sampai dengan petang jam 12 PM-12 AM, begitu
seterusnya. Nah, karena tidak semua orang sanggup untuk mengingat Allah
dalam sehari-semalam maka sholat lima waktu itu adalah merupakan event
khusus untuk mengingat-Nya. Jika orang awam tidak ada perintah sholat lima
waktu maka tentu saja Allah akan mudah terlupakan. Kalau Allah
terlupakan
maka bumi ini bisa rusak oleh berbagai kejahatan yang dilakukan manusia.
Orang awam perlu dilatih disiplin melalui sholat lima waktu ini untuk
mengingat Allah. Dengan mengingat Allah, kontrol diri akan lebih kuat.
Namun
demikian, janganlah merasa cukup puas hanya dengan sholat lima waktu.
Tingkatkanlah agar kita mampu melakukan sholat daim. Mari kita simak
kembali ungkapan Sunan Bonang yang tertulis dalam Suluk Wujil :
Utaming
sarira puniki
Angawruhana
jatining salat
Sembah lawan
pujine
Jatining
salat iku
Dudu ngisa
tuwin magerib
Sembahyang
araneka
Wenange
puniku
Lamun
aranana salat
Pan minangka
kekembaning salat daim
Ingaran tata
krama
Artinya :
“Unggulnya diri itu mengetahui hakekat sholat, sembah dan pujian. Sholat
yang sebenarnya bukan mengerjakan isya atau magrib. Itu
namanya sembahyang, apabila disebut sholat maka itu hanya hiasan dari
sholat daim. Hanyalah tata krama”
Dari ajaran
Sunan Bonang diatas, maka kita bisa memahami bahwa sholat lima waktu
adalah sholat hiasan dari sholat daim. Sholat lima waktu ganjarannya
adalah masuk surga dan terhindar neraka. Tentu yang mendapat surga pun
adalah mereka yang mampu menegakan sholat yaitu dengan sholat tersebut, ia
mampu mencegah dirinya dari berbuat keji dan mungkar.
Sayangnya,
saat ini banyak orang yang hanya meributkan sholat fisiknya saja dan
melupakan hakekat sholat itu sendiri. Seringkali jika terdapat
perbedaan pada gerakan ataupun bacaan sholat, mereka saling ribut
mengatakan sholatnya paling benar dengan menyebut sejumlah Hadist yang
diyakininya benar.
Harap
diingat! Perbedaan gerak maupun bacaan adalah hal yang wajar karena Nabi
sendiri tidak mengajarkan sholat secara khusus melainkan hanyamengatakan
“Sholatlah sebagaimana aku sholat”. Nah karena banyak orang yang
menyaksikan sholatnya Nabi, maka penglihatan masing-masing orang bisa
berbeda sehingga tidaklah aneh jika ada perbedaan dikemudian hari.
Mengapa Nabi
tidak mengajarkan sholat secara khusus? karena gerakan sholat yang
dicontohkan Nabi sudah tidak asing lagi bagi masyarakat Arab.
Gerakan sholat yang dicontoh Nabi berasal dari agama Kristen Ortodoks
Syiria yang telah muncul satu abad sebelum Nabi lahir. Ritual sholat
mereka dikerjakan dalam tujuh waktu. Gerakannya ada berdiri, ruku dan
sujudnya mirip sekali dengan sholat lima waktu umat Islam. Cara sholat
umat Kristen Ortodoks Syiria sampai hari ini pun masih bisa kita saksikan.
Bagi umat Islam yang tidak mengerti sejarah, pasti akan sewot dan
mengatakan mereka telah mencontek sholatnya orang Islam atau menuduh
mereka melakukan kristenisasi gaya baru. Padahal, justru kitalah yang
mengadopsi sholat dari mereka.
Dengan
demikian, Nabi ternyata tidak membawa syariat baru. Nabi
hanya memodifikasi berbagai syariat yang telah ada sebelumnya. Contoh
lainnya adalah Ibadah Haji dan Umroh. Ibadah ini sudah menjadi kelaziman
pada jaman pra Islam. Hampir seluruh ritualnya sama dengan yang dilakukan
umat Islam pada saat sekarang, yakni memakai pakaian ihram, wukuf,
melempar jumrah, sa’i dll. Nabi hanya mewarisi saja dengan menyingkirkan
ibadah ini dari kesyirikan dan diganti dengan kalimah thoyibah.
Begitu juga
dengan
pengagungan
bulan Ramadhan, perkumpulan di hari jum’at, telah ada sebelumnya pada
jaman pra Islam. Aturan pra Islam lainnya yang diadopsi dari tradisi hanifiyyah
antara lain : pengharaman minum arak, riba, zina, memakan babi, kemudian
ada juga pemotongan hukum tangan pelaku pencuri dlsb. Dengan demikian,
Nabi hanya melakukan modifikasi saja pada beberapa syariat dan aturan.
Termasuk dalam hal poligami yang tadinya dilakukan orang Arab pra Islam
tanpa batas kemudian oleh Nabi dibatas menjadi empat
istri sesuai
perintah dari Allah.
Nah,
fakta-fakta diatas dapat Anda baca secara lebih luas melalui
buku-buku yang mengulas sejarah dan peradaban pra Islam, misalnya karangan
Khalil Abdul Karim dengan judulnya Al-Judzurat at-Tarikhiyyah la
asy-syariah al Islamiyyah. Nah, pertanyaannya sekarang adalah, mengapa
Nabi tidak membawa syariat yang sama sekali baru? Jawabannya mudah saja,
karena jika membawa syariat baru maka hampir bisa dipastikan dakwah Nabi
gagal. Sama halnya jika Nabi mengenalkan kesenian wayang di tanah Arab
tentulah akan gagal karena ketidakcocokan budaya. Meski Islam itu untuk
seluruh umat manusia, namun dalam konteks mengenalkan agama tersebut haruslah
tetap mengacu dan berkompromi pada ritual dan budaya lokal Arab agar tetap
bisa diterima masyarakat pada saat itu. Perhatikan firman Allah berikut
ini :
Dan jikalau
Kami jadikan Al Quraan itu suatu bacaan dalam bahasa selain Arab, tentulah
mereka mengatakan: “Mengapa tidak dijelaskan ayat ayatnya?” Apakah (patut
Al Quran) dalam bahasa asing sedang (Rasul adalah orang) Arab? (Q.S
Fushishilat (41) : 44)
Kami tidak
mengutus seorang rasulpun, melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia
dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka. (Q.S Ibrahim (14) :
4)
Kalau Nabi
membawa syariat baru maka sudah pasti akan ditolak oleh orang Arab karena
syariat itu akan menjadi sangat asing bagi mereka. Coba kita ingat kembali
misi utama Nabi yaitu memperbaiki ahlak dan mengajarkan tauhid. Bayangkan
jika Nabi harus mengenalkan syariat baru, maka tentunya dakwah Nabi malah
akan dipenuhi oleh pengajaran ritual-ritual ibadah yang baru. Bisa jadi
nantinya fokus pada pembinaan ahlak akan terbengkalai karena umat lebih sibuk
belajar ibadah ritual tanpa memahami hakekat ritual itu sendiri. Padahal
semua ritual tersebut, tujuannya adalah untuk membentuk ahlak yang baik.
Hal yang
sama juga telah dilakukan oleh para wali songo. Contohnya Sunan Kudus
membuat Masjid dengan atapnya sama seperti pura (rumah ibadah umat Hindu).
Syekh Siti Jenar tidak mengajarkan “sholat ala Arab” kepada orang jawa.
Sujud bagi orang Arab adalah penghormatan yang tertinggi, sedangkan bagi
orang jawa, penghormatan tertinggi adalah duduk dengan tangan ditangkupkan
diatas kepala. Wali lain seperti Sunan Kalijaga juga mengenalkan Islam
melalui sekatenan, muludan, selametan, wayang dll.
Sampai saat
ini, kita masih mendapati Islam jawa yang diajarkan oleh Siti Jenar dan
Sunan Kalijaga yang kemudian lebih dikenal dengan nama Islam abangan atau
kejawen. Dengan demikian, para wali ini sebenarnya telah mengikuti sunnah
Nabi yakni tidak merubah kebiasaan masyarakat setempat melainkan
memodifikasi sedemikian rupa agar dakwahnya bisa diterima. Bagi para wali,
yang terpenting dari ibadah itu adalah tujuannya sedangkan “wadahnya” bisa
fleksibel sesuai dengan tradisi setempat.
Sekarang,
sudah saatnya bagi kita tidak lagi perang syariat antar aliran agama. Yang
terpenting dari syariat adalah isinya bukan kulitnya!. Syariat
tanpa hakekat adalah sia-sia. Hakekat tanpa syariat? Nah ini yang
sebenarnya tidak ada!, orang yang sudah mencapai hakekat, sudah pasti
syariatnya ikut meski penerapannya berbeda antar tiap kelompok, aliran dan
agama. Adanya perbedaan haruslah dihargai, bukan diperangi! Sebab cuma
Allah-lah yang mengetahui sesat atau tidaknya seseorang (Q.S 53 : 32, 6 :
117).
Kita harus
mampu melampaui batasan yang sifatnya lahiriah. Jangan melulu meributkan
ritual fisik sholat! Tapi lihatlah tujuan dari sholat itu sendiri. Jangan
pula hanya berhenti pada tataran sholat lima waktu saja. Sholat
yang sejati adalah sholat yang terus menerus selama 24 jam (sholat daim)
karena sholat inilah yang mampu melampui alam surga sehingga dapat
kembali kepada-Nya. Disanalah nanti orang-orang ‘arif akan
mendapatkan kebahagiaan yang kekal, manunggal bersama-Nya!
Bagi mereka
yang ingin mendalami sholat daim maka silahkan mencari ulama tauhid (guru
mursyid). Ulama ini cukup banyak hanya saja mereka tidak muncul ke
permukaan. Mereka hanya mau mengajari orang-orang yang mau mencapai maqam
makrifat saja. Sama halnya Nabi Muhammad pun hanya mengajari orang-orang
tertentu saja misalnya para sahabat seperti Ali bin Abi Thalib, Abu Bakar
dll. Nah karena tidak mengajarkan secara terang-terangan inilah maka
kemudian sebagian umat Islam menghakimi bahwa tasawuf yang
bermunculan
adalah sesat. Padahal ajaran tasawuf yang bermunculan semuanya bermuara ke
para sahabat Nabi seperti Ali, Abu Bakar dll. Bahkan ada kelompok tasawuf
yang mewajibkan murid-muridnya harus hafal silsilah dari guru mursyidnya
hingga ke Rasulullah. Ini menandakan bahwa Rasulullah memang mengajarkan
tasawuf atau cara mencapai makrifat kepada sahabatnya
lalu
diwariskan kembali oleh sahabat tersebut kepada generasi selanjutnya. Para
imam mazhab sendiri mengakui tasawuf sebagai ajaran yang sangat penting.
Imam Syafi’i Ra mengatakan : “Aku diberi rasa cinta melebihi dunia kalian
semua. Meninggalkan hal-hal yang memaksa, bergaul dengan sesama penuh
kelembutan dan mengikuti ahli tasawuf”.
Imam Ahmad
bin Hambal Ra sebelum bertasawuf mengatakan “Hai anakku, hendaknya engkau
berpijak kepada Hadist. Kamu harus berhati-hati bersama orang yang
menamakan dirinya kaum sufi. Karena kadang diantara mereka sangat bodoh
dengan agama”. Kemudian setelah berguru tasawuf kepada Abu Hamzah Al
Baghdady, beliau meralat ucapannya : “Hai anakku, hendaknya engkau
bermajlis kepada para sufi karena mereka bisa memberikan tambahan bekal
kepada kita melalui ilmu yang banyak, muroqobah, rasa takut kepada Allah,
zuhud dan himmah yang luhur. Aku tidak pernah melihat suatu kaum yang
lebih utama ketimbang kaum sufi”.
Jadi, cara,
usaha atau wasilah apapun sepanjang itu bisa mendekatkan diri kepada Allah
tidaklah dilarang. Malah di Al Quran, kita dianjurkan mencari jalan yang
mampu mendekatkan diri kepada-Nya :
Hai,
orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah
jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan bersungguh-sungguh lah pada
jalan- Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan (Q.S Al Maaidah (5) : 35)
Belajar
tasawuf dengan berguru kepada ulama tauhid merupakan usaha atau jalan
untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Mengapa berguru itu penting? Keutamaan
seorang guru mursyid adalah mampu membimbing kita lebih terarah ketimbang
kita melakukan pencarian seorang diri. Dari sisi efisiensi waktu, jelas
belajar kepada seorang guru akan lebih cepat ketimbang belajar tanpa guru.
Meski demikian guru mursyid hendaknya tidak dikultuskan sedemikian rupa.
Kita menimba pelajaran dari beliau dan kita sendirilah yang
akan menjalankannya.
Kita tetap menjaga hubungan yang baik dengan dengan guru mursyid sebagai
sesama orang yang beriman.
Diluar sana,
banyak juga orang yang melakukan perjalanan spiritual seorang diri.
Tentunya ia akan membutuhkan waktu yang panjang dan hasilnya pun belum
pasti bahkan bisa terperosok kepada jalan yang keliru. Imam Ghozali adalah
salah seorang filsuf yang melakukan perjalanan panjang (salik)
dalam menemui Tuhannya. Ia bahkan harus mengasingkan diri dari keramaian
orang banyak (uzlah) agar tidak terganggu tirakatnya.
Tentu hidup
di jaman sekarang sangat sulit mengasingkan diri dari keramaian orang.
Uzlah yang harus dilakukan manusia modern hendaknya tidak harus menyendiri
dari keramaian dan tidak harus melepas tanggung jawab dunia dengan
meninggalkan anak, istri. Seorang sufi bernama Abu Said Al Khudri bahkan
mengatakan :
“Manusia
sempurna adalah orang yang duduk diantara semua mahluk, berdagang bersama
mereka, menikah serta bercampur dengan sesama manusia. Namun mereka tidak
lengah sedetikpun dari mengingat Allah”.
Dengan
uraian diatas, jelaslah bahwa usaha untuk menemui Allah tidak mesti harus
memutus hubungan bermasyarakat. Allah bisa ditemui siapapun, ditempat
apapun. Untuk menemui Allah ternyata ada jalan terpendek (mazhud) yakni
dengan mendapat bimbingan dari guru mursyid. Rasullullah sendiri telah
mencontohkan dalam hal menemui Allah yaitu dengan mikraj yang dilakukan
cukup semalaman saja. Bandingkan dengan Sidharta Gautama yang membutuhkan
waktu 6 tahun untuk mencapai mikraj. Guru mursyid inilah yang mampu
mengajarkan mikraj dengan cepat sebagaimana yang telah dicontohkan Nabi
Muhammad. Carilah guru mursyid yang mampu memberikan jalan tercepat dan
paling efektif dalam usaha menemui-Nya sebagaimana yang dinyatakan dalam
Al Quran :
Aku dapat
membawa singgasana-Nya dalam sekejab mata (Q.S An Naml (27) : 40)
Jalan pendek
ini pun akhirnya diakui jauh lebih efektif oleh Imam Ghozali dalam bukunya
yang berjudul “misykat cahaya”. Sebab Allah selalu memberi kemudahan
kepada umat-Nya khususnya bagi mereka yang memiliki keinginan kuat untuk
menemui-Nya. Nabi Muhammad, dalam Hadistnya mengatakan :
“Barang
siapa ingin menjumpai Allah, maka Allah pun ingin menjumpainya”
“Barang
siapa yang tidak ingin menjumpai Allah, maka Allah pun tidak ada
keinginan
untuk menjumpainya”
”berjalan
kamu menuju Allah, maka berlari Allah menghampirimu.
Sejengkal
kamu mendatangi Allah, maka sedepa Allah mendatangimu”.